STIKES Panrita Husada Bulukumba Bersiap Gelar Simposium Internasional di Malaysia

STIKES Panrita Husada Bulukumba Bersiap Gelar Simposium Internasional di Malaysia

BULUKUMBA, INDONESIA – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Panrita Husada Bulukumba kembali menegaskan komitmennya dalam kolaborasi akademik internasional. Tahun 2025, kampus kesehatan asal Sulawesi Selatan ini bersiap menggelar The International Symposium on Health and Environment (ISHE) 2025 di Kuala Lumpur dan Melaka, Malaysia pada 4–5 September mendatang.

Simposium ini merupakan edisi ketiga sejak pertama kali dihelat tahun 2023. Setelah sukses dilaksanakan di Makassar–Bulukumba (2023) dan kemudian di Sendai–Tokyo, Jepang (2024), tahun ini STIKES Panrita Husada bekerja sama dengan Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM) untuk melanjutkan estafet kegiatan ilmiah lintas negara.

Kolaborasi Akademik yang Terus Berkembang

Sejak awal 2024, STIKES Panrita Husada dan UTeM sudah menjalin hubungan erat. Januari 2024 lalu, pihak UTeM berkunjung ke Bulukumba. Kini giliran STIKES Panrita Husada yang hadir di Malaysia bersama dosen dan mahasiswa, bukan hanya untuk mempererat kerja sama, tetapi juga melaksanakan seminar bersama dalam rangkaian ISHE 2025.

Ketua STIKES Panrita Husada, Dr. Ns. Muriati, S.Kep., M.Kes., menyampaikan apresiasinya terhadap kerja keras panitia.

“Kami sangat bangga dengan kerja keras dan dedikasi tim panitia. Keberhasilan dua simposium sebelumnya menjadi bukti nyata komitmen kita dalam memajukan ilmu kesehatan dan lingkungan. Simposium di Malaysia ini diharapkan dapat menjadi platform yang lebih luas lagi untuk berkolaborasi dengan para akademisi dan praktisi dari berbagai negara,” ujarnya.

Angkat Isu Kesehatan Global dan Keperawatan

Tema Kesehatan dan Lingkungan tetap menjadi fokus utama simposium, karena keduanya adalah isu krusial di era modern: mulai dari perubahan iklim, penyakit menular, kesehatan masyarakat, hingga teknologi medis. Namun, di ISHE 2025, perhatian khusus juga diberikan pada keperawatan.

Sebagai garda depan pelayanan kesehatan, perawat memiliki peran yang tak tergantikan. Diskusi dan riset yang dipresentasikan akan mencakup topik-topik keperawatan, seperti strategi perawatan pasien, perawatan lansia, peran perawat dalam edukasi kesehatan masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi untuk mendukung praktik keperawatan.

Platform Regional dan Global

ISHE bukan sekadar forum ilmiah, melainkan juga wadah membangun persahabatan antarbangsa melalui kolaborasi pendidikan. Dengan partisipasi dosen, mahasiswa, dan peneliti dari berbagai negara, simposium ini menjadi ruang bertukar ide, melahirkan inovasi, serta memperkaya khazanah keilmuan di bidang kesehatan.

Ismail Suardi Wekke, Ph.D., anggota komite saintifik SEAAM dan mitra kegiatan, mengungkapkan kegembiraannya.

“Prakarsa kolaborasi ini, yang dimulai pada tahun 2023, telah tumbuh menjadi agenda penting dalam kalender akademik kami. Kami melihat antusiasme yang luar biasa dari para peserta di setiap edisinya. Simposium di Malaysia ini akan membuka pintu baru untuk kolaborasi yang lebih erat antara akademisi Indonesia dan Malaysia, serta negara-negara lain yang berpartisipasi,” katanya.

Malaysia sebagai Tuan Rumah

Kegiatan ISHE 2025 akan berlangsung di dua lokasi strategis: Kuala Lumpur dan Melaka. Kuala Lumpur dikenal sebagai pusat modern dengan fasilitas akademik dan riset yang maju, sementara Melaka menghadirkan nuansa sejarah yang kental. Perpaduan ini memberikan pengalaman berbeda bagi peserta, tidak hanya mengikuti sesi akademik, tetapi juga menjalin interaksi lintas budaya dalam suasana kondusif.

Kontribusi Daerah untuk Dunia

Keterlibatan STIKES Panrita Husada Bulukumba dalam forum internasional ini membuktikan bahwa perguruan tinggi dari daerah pun bisa tampil di panggung global. Dengan fokus pada kesehatan, lingkungan, dan keperawatan, ISHE 2025 diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat.


Dengan semangat kolaborasi, ISHE 2025 bukan hanya menjadi forum diskusi ilmiah, tetapi juga ruang bagi perawat dan akademisi Asia Tenggara untuk bersatu menghadapi tantangan kesehatan global.

Mahasiswa Prodi Keperawatan STIKES Panrita Husada Presentasikan Karya Ilmiah di UTeM Malaysia

Mahasiswa Prodi Keperawatan STIKES Panrita Husada Presentasikan Karya Ilmiah di UTeM Malaysia

 

Melaka, Malaysia — Peran perawat dalam menjaga kesehatan masyarakat kembali mendapat sorotan di forum internasional. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Panrita Husada Bulukumba, Indonesia, bersama Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM), sukses menyelenggarakan International Symposium on Health and Environment (ISHE) 2025 pada 4–5 September 2025.

Acara yang berlangsung di Hotel Seri Malaysia, Melaka, ini menjadi ajang pertemuan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi kesehatan dari berbagai negara. Tidak hanya membahas isu lingkungan dan kesehatan secara umum, ISHE tahun ini memberi perhatian khusus pada bidang keperawatan yang menjadi garda depan pelayanan kesehatan masyarakat.

Forum Internasional untuk Kesehatan dan Keperawatan

Ketua STIKES Panrita Husada, Dr. Muriati Mursali, menegaskan bahwa ISHE 2025 bukan sekadar forum akademik, tetapi juga wadah nyata bagi profesi perawat untuk menunjukkan kontribusinya.

“ISHE 2025 adalah langkah nyata kami untuk mendorong civitas akademika agar terus berinovasi dan berkontribusi secara global. Kolaborasi dengan UTeM ini sangat penting untuk memperluas wawasan dan jaringan internasional kami,” ujarnya.

Sejak pertama kali digelar pada 2023 di Makassar dan Bulukumba, ISHE telah menjadi agenda tahunan yang terus berkembang. Tahun 2024, simposium ini sukses dilaksanakan di Jepang (Sendai dan Tokyo). Kini, tahun ketiga di Melaka menunjukkan bahwa kerja sama lintas negara semakin solid, termasuk dalam memperkuat kapasitas keperawatan di Asia Tenggara.

Riset yang Dekat dengan Kehidupan Masyarakat

Dalam ISHE 2025, berbagai hasil riset dipresentasikan. Mulai dari isu kesehatan lingkungan, pengaruh perubahan iklim, hingga strategi perawatan pasien yang lebih efektif dan manusiawi. Penelitian di bidang keperawatan juga menjadi sorotan, terutama yang berfokus pada peningkatan kualitas layanan pasien, perawatan lansia, hingga pendekatan baru dalam edukasi kesehatan masyarakat.

Ketua Yayasan Panrita Husada, Bapak Andi Idris Aman, menekankan pentingnya menjembatani riset dengan kebutuhan nyata di lapangan.

“Kami berharap, hasil-hasil penelitian yang dipresentasikan dalam simposium ini dapat diimplementasikan dan memberikan manfaat besar, khususnya dalam mengatasi isu-isu kesehatan dan lingkungan yang kompleks saat ini,” tegasnya.

Kolaborasi Akademik untuk Masa Depan

Selain diskusi dan presentasi ilmiah, ISHE juga menjadi ajang memperluas jejaring kerja sama antarperguruan tinggi di Asia Tenggara. Dengan keterlibatan mahasiswa keperawatan, forum ini bukan hanya menginspirasi para peneliti senior, tetapi juga memberi motivasi bagi generasi muda untuk berkontribusi di bidang kesehatan.

Ismail Suardi Wekke, salah satu anggota komite saintifik ISHE, menyampaikan apresiasinya. “Kita sampaikan terima kasih kepada STIKES Panrita Husada dan UTeM yang telah bersedia menjadi pelaksana bersama kegiatan ini. Jikalau tak ada halangan, ISHE memungkinkan dilaksanakan di Vietnam atau Filipina pada tahun yang akan datang, insya Allah,” ujarnya.

Perawat: Pilar Penting Kesehatan Global

ISHE 2025 menegaskan kembali bahwa keperawatan memegang peranan penting dalam menjawab tantangan global. Profesi perawat bukan hanya soal memberi layanan klinis, tetapi juga berkontribusi dalam riset, kebijakan, dan inovasi kesehatan.

Dengan kolaborasi internasional seperti ini, diharapkan semakin banyak gagasan lahir untuk memperkuat kapasitas perawat dalam menghadapi isu-isu global seperti pandemi, perubahan iklim, kesehatan lansia, hingga pemanfaatan teknologi medis terbaru.


Melalui ISHE 2025, dunia akademik kembali diingatkan bahwa perawat adalah pilar utama dalam sistem kesehatan global. Ke depan, forum ini diharapkan terus memberi ruang bagi profesi keperawatan untuk berkembang, berinovasi, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat luas.

Unmuh Barru bersama Konsorsium KPTCN dan BOLT Sukses Gelar Seminar di Tohoku, Rangkaian Summer School in Japan

Unmuh Barru bersama Konsorsium KPTCN dan BOLT Sukses Gelar Seminar di Tohoku, Rangkaian Summer School in Japan

Tohoku, Jepang – Konsorsium Pengajian Tinggi dan Cendikiawan Nusantara (KPTCN) bersama Balsamo Outreach for Learning and Teaching (BOLT) serta Universitas Muhammadiyah Barru sukses melaksanakan seminar di Tohoku, Jepang, Senin, 25 Agustus 2025, sebagai bagian dari rangkaian program Summer School in Japan 2025. Kegiatan ini dihadiri dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia dengan tujuan memperkuat jejaring akademik, memperluas wawasan, serta mendorong kolaborasi lintas negara, termasuk dalam bidang kesehatan global.

Presiden KPTCN, Prof. Supari Muslim, menekankan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam membangun kesadaran terhadap tantangan global. “Keikutsertaan KPTCN dalam summer school ini adalah wujud nyata komitmen kami untuk memfasilitasi pembelajaran lintas disiplin. Dengan kolaborasi internasional, kita dapat menyiapkan mahasiswa dan dosen menghadapi tantangan besar, salah satunya isu kesehatan global yang kini menjadi perhatian dunia,” ungkapnya.

Seminar ini menghadirkan narasumber terkemuka dari Indonesia dan Jepang. Prof. Peter John Wanner menyoroti peran riset dan inovasi lintas negara dalam memajukan peradaban, termasuk dalam menghadapi krisis kesehatan. “Kolaborasi internasional seperti ini sangat penting untuk menciptakan ekosistem akademik yang dinamis dan berdaya saing,” jelasnya.

Selain itu, Dr. Yuan dari Akita University berbagi hasil penelitiannya dalam pembelajaran bahasa, dengan studi kasus penggunaan metafora. Menurutnya, pendekatan lintas budaya juga relevan untuk memperkuat pemahaman antarbangsa, terutama dalam menghadapi masalah kesehatan yang bersifat global, karena komunikasi yang efektif menjadi dasar kerja sama internasional.

Rangkaian Summer School tidak hanya diisi dengan seminar, tetapi juga kunjungan lapangan ke Universitas Tohoku, museum, serta pusat riset di Jepang. Para peserta berkesempatan melihat langsung bagaimana Jepang mengembangkan riset sains, teknologi, dan kesehatan yang terintegrasi. Hal ini memberikan inspirasi bagaimana perguruan tinggi Indonesia dapat memperkuat perannya dalam menjawab tantangan kesehatan masyarakat.

Presiden (terpilih) BOLT, Prof. Ismail Suardi Wekke, menambahkan, “Kerja sama ini sangat strategis. Kami berharap program ini tidak hanya memperluas jejaring akademik, tetapi juga melahirkan gagasan-gagasan baru terkait isu kesehatan global. Dunia pendidikan punya peran vital dalam menyiapkan SDM yang peduli dan siap berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat dunia.”

Dr. Otto Fajarianto, dosen Universitas Negeri Malang sekaligus komite saintifik, juga menegaskan bahwa pengalaman lintas negara ini membuka perspektif baru. “Saya belajar banyak, terutama bagaimana kolaborasi akademisi bisa memberi solusi untuk persoalan bersama, termasuk kesehatan global yang membutuhkan kerja sama lintas disiplin,” ujarnya.

Acara ditutup dengan serah terima cendera mata dan foto bersama. Kesuksesan kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara KPTCN dan BOLT mampu melahirkan program yang tidak hanya memperkuat jejaring akademik, tetapi juga relevan dengan isu-isu global, termasuk kesehatan.

Pengembangan Keterampilan Abad 21: Literasi Digital dan Teknologi untuk Mendukung Transformasi Layanan Kesehatan

Pengembangan Keterampilan Abad 21: Literasi Digital dan Teknologi untuk Mendukung Transformasi Layanan Kesehatan

Mamuju, 27 Agustus 2025 – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Chaeriyah Mamuju menyelenggarakan short course bertajuk “Pengembangan Keterampilan Abad 21: Literasi Digital dan Teknologi” dengan narasumber Faisal Jabir. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2025, pukul 10.00–12.00 WITA.

Keterampilan abad 21 tidak hanya menekankan pada kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas (4C), tetapi juga pada literasi digital yang kini menjadi kebutuhan mendasar di berbagai bidang, termasuk pendidikan dan layanan kesehatan.

Literasi digital bukan sekadar mampu menggunakan perangkat teknologi, melainkan juga pemahaman kritis terhadap informasi, keamanan siber, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Literasi Digital dalam Layanan Kesehatan

Pentingnya literasi digital semakin terasa dalam konteks layanan kesehatan. Salah satu contoh nyata adalah kehadiran Perawat.id, sebuah startup berbasis di Makassar yang menyediakan layanan kesehatan di rumah, mulai dari perawatan luka (khususnya pasien diabetes), perawatan lansia, hingga pendampingan ibu dan bayi.

Dengan memanfaatkan teknologi digital, Perawat.id memudahkan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan tanpa harus datang ke rumah sakit. Model layanan ini sejalan dengan tren global home care service yang mengutamakan efisiensi, kenyamanan pasien, serta pemanfaatan teknologi komunikasi untuk pemantauan kondisi pasien secara berkelanjutan.

Sinergi Pendidikan dan Dunia Industri Kesehatan

Kegiatan short course ini menunjukkan adanya upaya dunia pendidikan untuk menyiapkan generasi yang melek teknologi sekaligus mampu berkontribusi pada berbagai sektor, termasuk sektor kesehatan. Mahasiswa dan tenaga profesional yang memiliki literasi digital memadai akan lebih siap menghadapi tantangan era digital, misalnya dalam mengelola data pasien, melakukan telekonsultasi, hingga menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung diagnosis awal.

Kesimpulan

Transformasi digital menuntut peningkatan keterampilan abad 21, terutama literasi digital. Program pelatihan seperti yang dilaksanakan STIT Al Chaeriyah menjadi langkah penting untuk mencetak sumber daya manusia yang adaptif dan inovatif.

Lebih jauh, inisiatif ini juga selaras dengan perkembangan layanan kesehatan digital seperti Perawat.id, yang membuktikan bahwa kolaborasi antara teknologi dan kesehatan dapat memberikan solusi nyata bagi masyarakat Indonesia.

BINUS University Jalin Kemitraan Strategis, Buka Kesempatan Kolaborasi dengan Akademisi Papua di ICOBAR 2025 Dalam Tema Kesehatan Lingkungan

BINUS University Jalin Kemitraan Strategis, Buka Kesempatan Kolaborasi dengan Akademisi Papua di ICOBAR 2025 Dalam Tema Kesehatan Lingkungan

Jakarta, 23 Agustus 2025 — The International Conference on Biospheric Harmony (ICOBAR) edisi ke-7 kembali digelar oleh BINUS University, menjadi forum penting bagi akademisi dan peneliti untuk membahas isu-isu global. Diadakan di kampus Alam Sutra, konferensi ini memfokuskan diskusi pada komunikasi, bisnis, dan inovasi, sekaligus menjadi platform strategis untuk membangun kemitraan antarperguruan tinggi.
Salah satu hal yang disorot adalah pentingnya pembahasan isu-isu kesehatan dalam berbagai konteks, termasuk kaitannya dengan inovasi teknologi dan model bisnis yang berkelanjutan. Partisipasi The Academia of Papua di konferensi ini juga menjadi bukti komitmen BINUS dalam memperluas kolaborasi akademis. Ismail, The Academia of Papua, menyampaikan terima kasih atas kesempatan menjejakkan kaki ke kampus Binus University.
Acara yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan sesi interaktif dan diskusi mendalam, salah satunya membahas “Transformasi Digital dan Etika Bisnis di Era 5.0.” Selain mengupas dampak teknologi terhadap model bisnis, sesi ini juga menyentuh aspek-aspek kesehatan, seperti bagaimana inovasi digital dapat memengaruhi layanan kesehatan dan etika dalam pengelolaan data medis.
Partisipasi aktif akademisi dari berbagai institusi, termasuk dari The Academia of Papua, turut memperkaya diskusi. Ismail Suardi Wekke, akademisi senior dari The Academia of Papua yang juga menjadi anggota Komite Ilmiah ICOBAR 2025, menggarisbawahi pentingnya acara ini.
“Kolaborasi lintas disiplin ilmu dan institusi adalah kunci untuk memecahkan tantangan global yang semakin kompleks,” ujar Ismail. “Kegiatan ini sangatlah insightful. Saya berharap dapat menjalin kontak lebih lanjut dengan para peneliti di sini dan ini adalah sebuah peluang untuk berkolaborasi di masa depan. Kita tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun jejaring untuk riset dan pengembangan, termasuk dalam isu kesehatan masyarakat dan inovasi. Kehadiran kami dari The Academia of Papua di ICOBAR 2025 adalah bukti nyata dari semangat kolaborasi yang dibangun oleh BINUS University.”
“Terima kasih Binus, atas pengalaman emas ini. Sebuah kehormatan bagi kami, bisa turut hadir dan sekaligus diberi kesempatan menjadi komite saintifik dan reviewer konferensi,” pungkas Ismail Suardi Wekke.

Meningkatkan Kesehatan Mental dan Kompetensi Global: BOLT Selenggarakan Summer School di Jepang

Meningkatkan Kesehatan Mental dan Kompetensi Global: BOLT Selenggarakan Summer School di Jepang

 

BOLT (Balsamo Outreach for Learning and Teaching) bekerja sama dengan perguruan tinggi mitra dan Konsorsium Perguruan Tinggi dan Cendekiawan Nusantara (KPTCN), kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan sumber daya manusia. Dalam kerangka inisiatif Malaysia–Indonesia–Japan Linkage on Interdisciplinary Studies (MAJLIS), mereka akan mengadakan program Summer School di Jepang pada 24-30 Agustus 2025.
Program ini bukan hanya sekadar ajang belajar akademis, tetapi juga memiliki dampak positif yang signifikan bagi kesehatan mental dan kesejahteraan para pesertanya. Berinteraksi langsung dengan pakar internasional dan berpartisipasi dalam lokakarya interaktif akan membantu peserta memperluas wawasan dan membangun self-efficacy atau keyakinan diri mereka. Merasa kompeten dan mampu beradaptasi dalam lingkungan global dapat mengurangi stres dan kecemasan, serta meningkatkan motivasi untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.
Dalam pelepasan peserta dari pelbagai penjuru Indonesia, Sabtu, 23 Agustus 2025, Ismail menyampaikan apresiasi kepada semua pimpinan perguruan tinggi yang bersedia menjadi mitra kegiatan. “Dengan adanya kemitraan ini, peluang untuk maju bersama lebih mudah,” kata Ismail di Jakarta.
Menurut Ismail Suardi Wekke, salah satu komite saintifik, program ini bertujuan menciptakan pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman holistik dan siap berkolaborasi lintas batas. Keterampilan ini sangat relevan dengan kesehatan mental karena kemampuan berkolaborasi dan berpikir interdisipliner mengajarkan fleksibilitas kognitif dan resiliensi, dua aspek penting untuk menghadapi tantangan hidup.
Peserta program, yang dipilih berdasarkan prestasi akademik, akan belajar topik krusial seperti energi terbarukan dan digitalisasi. Mereka juga akan memahami budaya kerja Jepang yang berfokus pada etos kerja tinggi dan dedikasi. Mengalami lingkungan baru dan budaya kerja yang berbeda dapat melatih kemampuan adaptasi dan resiliensi para peserta. Kemampuan ini menjadi kunci untuk mengatasi tekanan, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi.
Selain itu, kegiatan seperti kunjungan budaya ke Matsushima memberikan keseimbangan antara kegiatan akademis yang intens dan relaksasi. Hal ini penting untuk mencegah kelelahan mental (burnout), yang sering terjadi pada individu dengan jadwal padat. Kombinasi antara stimulasi intelektual dan pengalaman budaya membantu menciptakan pengalaman belajar yang menyeluruh dan mendukung kesejahteraan mental.
“Kami menyatakan terima kasih kepada KPTCN yang bersedia melaksanakan kegiatan bersama dengan kita menyelenggarakan kegiatan ini. Sebagaimana kesempatan sebelumnya, dalam pelaksanaan summer schoo, juga dilaksanakan seminar,” tutur Ismail yang juga Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Perguruan Tinggi Al Asri penyelenggara IAI Rawa Aopa Konawe Selatan yang juga menjaid mitra kegiatan.
Dengan adanya program seperti ini, BOLT dan KPTCN tidak hanya mencetak talenta unggul yang berdaya saing global, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan mental dan sosial yang esensial. Pengalaman ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk berprestasi dan berani mengeksplorasi peluang global, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada kesejahteraan emosional dan karier mereka di masa depan.

Direktur Ahmad Amiruddin Fellowship Temui Plt Kadis Perkimtan Sulsel, Bahas Capacity Building dan Keterkaitan Pemukiman dengan Kesehatan

Direktur Ahmad Amiruddin Fellowship Temui Plt Kadis Perkimtan Sulsel, Bahas Capacity Building dan Keterkaitan Pemukiman dengan Kesehatan

MAKASSAR – Direktur Program Ahmad Amiruddin Fellowship (AAF), Ismail Suardi Wekke, bertemu dengan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Perkimtan) Provinsi Sulawesi Selatan, Ir. Nining Wahyuni, ST., MT., pada Kamis (21/8/2025). Pertemuan tersebut menyoroti isu peningkatan kapasitas pegawai, sekaligus membuka pembahasan lebih luas tentang keterkaitan antara kondisi pemukiman dengan kesehatan masyarakat.

Dalam pertemuan itu, Ismail menegaskan bahwa pembangunan wilayah tidak cukup hanya ditopang infrastruktur fisik. Sumber daya manusia birokrasi yang berkualitas menjadi faktor penentu, termasuk dalam memastikan pemukiman layak huni yang sehat.

“Pegawai pemerintah perlu berperan bukan hanya sebagai pelaksana kebijakan, melainkan juga sebagai perumus solusi yang adaptif dan inovatif. Kualitas pemukiman akan berimplikasi langsung pada kesehatan warganya,” ujar Ismail.

Ia mengajukan program capacity building dengan fokus pada penguatan keterampilan berbasis data, manajemen proyek, serta komunikasi publik. Menurutnya, tiga hal itu akan membantu aparatur dalam merancang kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk di sektor kesehatan.

Plt Kadis Perkimtan Sulsel, Nining Wahyuni, menyambut baik gagasan tersebut. Ia menilai peningkatan kapasitas pegawai adalah investasi jangka panjang. “Dampaknya bukan hanya pada pelayanan publik, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat, terutama jika dikaitkan dengan sektor kesehatan dan lingkungan,” kata Nining.

Sorotan Terhadap Hubungan Antara Pemukiman dan Kesehatan
Kondisi fisik pemukiman memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Lingkungan dengan sanitasi buruk, ventilasi tidak memadai, dan kepadatan tinggi rentan menjadi sarang penyakit menular, mulai dari tuberkulosis, diare, hingga infeksi pernapasan akut. Kurangnya akses air bersih juga membuat masyarakat rawan terhadap penyakit berbasis air.

Namun, masalah kesehatan tidak berhenti pada aspek fisik semata. Lingkungan yang tidak aman, minim ruang terbuka hijau, serta kurangnya fasilitas sosial seperti taman dan pusat komunitas, dapat meningkatkan risiko stres, depresi, hingga penyakit mental. Hal ini memperlihatkan bahwa pembangunan pemukiman sehat harus dipahami secara holistik—tidak hanya membangun rumah, melainkan juga membangun ekosistem sosial yang mendukung kesejahteraan fisik dan mental warga.

Karena itu, pembangunan pemukiman sehat menuntut pendekatan lintas sektor. Dinas Perkimtan tidak bisa bekerja sendiri, melainkan harus berkolaborasi dengan sektor kesehatan, pendidikan, dan tata kota. Penyediaan sanitasi, air bersih, serta sistem pengelolaan limbah yang memadai harus berjalan paralel dengan program perbaikan kawasan kumuh dan peningkatan kapasitas aparatur.

Pertemuan AAF dan Dinas Perkimtan Sulsel juga menyinggung kemungkinan penyelenggaraan Simposium Nasional Perencanaan Permukiman dan Perumahan Berbasis Asta Cita. Forum ini diharapkan menjadi wadah untuk mengintegrasikan kebijakan pemukiman dengan program prioritas nasional, termasuk upaya menciptakan kota sehat dan inklusif.

“Jika integrasi berjalan baik, maka pembangunan daerah tidak hanya memperbaiki fisik kota, tetapi juga memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat,” pungkas Ismail. (*)

Mengenal Perawat.ID: Menjemput Kesehatan Hingga ke Pintu Rumah — Belajar dari Tantangan Jepang

Mengenal Perawat.ID: Menjemput Kesehatan Hingga ke Pintu Rumah — Belajar dari Tantangan Jepang

Bayangkan Anda sedang bekerja di luar kota, sementara orang tua di rumah membutuhkan perawatan luka atau terapi rutin. Situasi ini umum di Indonesia, apalagi di era urbanisasi dan keluarga inti yang tersebar di berbagai daerah.
Di sinilah Perawat.ID masuk, sebuah layanan yang mengirimkan perawat profesional langsung ke rumah pasien.

Dalam sebuah diskusi hangat bersama Faisal Jabir, S.Kom.,M.TI (CEO Perawat.ID) dan Ismail Suardi Wekke, Ph.D. sebagai moderator, terungkap bahwa visi layanan ini sederhana namun kuat: membawa kesehatan lebih dekat, bahkan sampai ke pintu rumah.

“Kalau satu kata mewakili Perawat ID, Perawat ID adalah layanan jasa kesehatan di rumah Anda,” ujar Faisal.

Awalnya fokus pada perawatan lansia, kini layanan Perawat.ID meluas ke perawatan luka (terutama diabetes), pendamping rawat inap, pasien stroke, hingga perawatan pasca-operasi. Semua dijalankan oleh perawat bersertifikat, memastikan keamanan dan kualitas.

 

dokumentasi webinar mengenal Perawat.ID

Bukan Sekadar Layanan, Tapi Gerakan Sosial

Faisal bercerita bahwa ide ini lahir saat ia menjadi relawan bencana likuifaksi di Palu. Melihat lansia dan pasien kronis kesulitan mendapat perawatan layak memunculkan gagasan: kenapa tidak menghadirkan perawatan langsung ke rumah?
Kini, Perawat.ID juga terlibat dalam misi sosial—dari membantu korban gempa Cianjur hingga banjir di Maros—dengan semangat “Satu Desa, Satu Perawat”.

Belajar dari Jepang: Tantangan & Inspirasi

Menariknya, konsep Perawat.ID punya kemiripan dengan strategi yang sedang dijalankan di Jepang—negara dengan populasi lansia tertinggi di dunia. Jepang kini menghadapi tantangan “super-aged society”, di mana kebutuhan perawatan rumah melonjak, sementara tenaga perawat mulai menipis.

  1. Home Care untuk Masyarakat Tua
    Jepang mengembangkan sistem perawatan di rumah secara masif, namun masih terkendala distribusi tenaga yang merata. Di Indonesia, visi “Satu Desa, Satu Perawat” bisa menjadi jawaban untuk menghindari ketimpangan yang kini dialami Jepang.
  2. Teknologi vs Sentuhan Manusia
    Jepang mulai mengandalkan robot dan AI untuk membantu perawatan lansia. Tapi, seperti Faisal tegaskan, layanan seperti Perawat.ID menempatkan sentuhan manusia sebagai inti—sebuah nilai yang bahkan negara maju pun sedang berusaha pertahankan.
  3. Efisiensi Sistem Kesehatan
    Jepang mendorong task shifting—membagi peran dokter kepada tenaga kesehatan lain—serta memanfaatkan telemedicine. Perawat.ID sudah mulai mengadopsi pendekatan ini dengan kolaborasi jarak jauh antara perawat desa dan dokter, membuat layanan lebih cepat dan hemat biaya.

Penutup

Obrolan antara Faisal Jabir dan Prof. Ismail Suardi Wekke bukan sekadar memperkenalkan layanan baru—ini adalah ajakan untuk memikirkan masa depan kesehatan Indonesia. Jika Jepang saja kini berpacu mencari solusi untuk populasi lansia yang terus tumbuh, Indonesia punya kesempatan untuk bersiap sejak sekarang.

“Biar orang tahu dulu kenapa ini penting, sebelum mereka tahu seperti apa cara kerjanya,” kata Faisal.

Dengan langkah kecil dari pintu rumah, Perawat.ID bisa jadi bagian dari jawaban besar untuk masa depan kesehatan bangsa.

 

Kenalan Lebih Dekat dengan Perawat.ID: Layanan Kesehatan dari Rumah untuk Semua

Kenalan Lebih Dekat dengan Perawat.ID: Layanan Kesehatan dari Rumah untuk Semua

Makassar, 10 Agustus 2025 — Perawat.ID, platform layanan kesehatan berbasis digital asal Makassar, malam ini akan menggelar event “Mengenal Perawat.ID” yang diselenggarakan secara online dan bertujuan memperkenalkan berbagai layanan keperawatan langsung ke masyarakat.

Peserta yang hadir dapat langsung bertanya seputar layanan, mulai dari perawatan luka, pendampingan ibu dan bayi, hingga pijat laktasi dan pijat bayi yang menjadi salah satu layanan unggulan Perawat.ID

Melalui event ini, kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan ini sebagai momen belajar dan berdiskusi seputar kesehatan, terutama bagi keluarga yang ingin mendapatkan layanan perawat profesional langsung di rumah.

Event ini diharapkan menjadi langkah awal bagi Perawat.ID untuk semakin dikenal luas, sekaligus menjembatani komunikasi langsung antara tim perawat dan masyarakat. Interaksi yang terjalin nantinya diharapkan membuat suasana menjadi lebih personal dan informatif.

Pascaperolehan Akreditasi Institusi, Unmuh Barru Bersiap membuka Prodi Administrasi Kesehatan

Pascaperolehan Akreditasi Institusi, Unmuh Barru Bersiap membuka Prodi Administrasi Kesehatan

BARRU – Aula KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Barru, Kamis (7/8/2025), menjadi saksi sebuah peristiwa bersejarah. Untuk pertama kalinya, kampus yang baru saja memperoleh Akreditasi Institusi dengan predikat B itu menggelar yudisium setelah bertransformasi dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Barru menjadi universitas.

Bagi Rektor Unmuh Barru, Dr. Andi Fiptar Abdi Alam, momen ini bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah penanda babak baru perjalanan kampus yang tengah membentangkan sayap. “Alhamdulillah, setelah perjuangan panjang, kita berhasil mendapatkan Akreditasi Institusi. Ini bukti komitmen kita dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya, penuh syukur.

Transformasi kelembagaan yang membawa Unmuh Barru ke jenjang universitas, menurut Andi Fiptar, membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan program studi, penelitian, dan jejaring kerja sama, termasuk dengan perguruan tinggi luar negeri. “Yudisium ini akan tercatat dalam sejarah kampus. Ia menandai awal sebuah keberlanjutan, bukan akhir,” tambahnya.

Di tengah suasana penuh khidmat, para calon wisudawan duduk berjejer, didampingi para dosen yang telah membimbing mereka. Bagi sebagian, ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang sarat perjuangan. Bagi kampus, ini adalah titik awal mengemban amanah lebih besar—menghadirkan lulusan yang berilmu sekaligus berkontribusi bagi masyarakat.

Akreditasi B yang baru saja diraih tak datang begitu saja. Ia lahir dari kerja kolektif seluruh unsur civitas akademika: dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Rektor menegaskan, pencapaian itu harus menjadi energi untuk terus memperkuat mutu akademik dan pengabdian. “Kita akan terus membuka program studi yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta memperluas jejaring kerja sama,” tegasnya.

Begitu juga pasca Akreditasi institusi, Unmuh Barru Bersiap membuka prodi Administrasi Kesehatan. Ditambah dengan PGSD, dan Pendidikan Olahraga.

Kepala Bagian Kerja Sama Unmuh Barru, Ismail Suardi Wekke, menambahkan bahwa kiprah kampus kini semakin nyata di panggung pendidikan tinggi. Ia menyebut berbagai inisiatif seperti program Student Mobility, pengelolaan sekretariat BOLT, dan kerja sama riset dengan Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM) sebagai bukti bahwa Unmuh Barru telah melangkah lebih jauh.

“Dengan lahirnya para sarjana baru, kita berharap lahir pula agen-agen pengabdian yang siap menebar manfaat. Selamat kepada para lulusan, selamat mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan umat,” ujar Ismail.

Di luar ruang yudisium, langit Barru cerah sore itu. Seakan ikut menyambut generasi baru yang akan membawa nama Unmuh Barru menembus batas-batas daerah, menuju cakrawala pengabdian yang lebih luas.

Copyright © 2026 Kata Perawat